Tasyakuran HUT ke-27 Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo Digelar Meriah dengan Pagelaran Wayang

27 September 2026
HERU PRASETYO
Dibaca 5 Kali
Tasyakuran HUT ke-27 Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo Digelar Meriah dengan Pagelaran Wayang

Sendangsari, Pengasih — Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo Padukuhan Girinyono, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, menggelar acara tasyakuran sekaligus memperingati hari ulang tahun ke-27 pada Jumat, 25 September 2026.

Bertempat di halaman rumah Bapak Supardi, Padukuhan Girinyono RT 40 RW 21, kegiatan berlangsung meriah dengan rangkaian acara seni budaya yang menampilkan potensi kesenian masyarakat setempat. Acara diawali dengan penampilan ibu-ibu anggota Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo yang membawakan sejumlah gending-gending Jawa.

Dengan iringan gamelan dan lantunan gending Jawa, penampilan ibu-ibu anggota paguyuban berhasil membuka suasana acara dengan hangat dan penuh nuansa budaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi gambaran eksistensi Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo dalam menjaga dan mengembangkan seni karawitan Jawa di tengah masyarakat.

Setelah penampilan karawitan, rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo dan Dukuh Girinyono. Dalam sambutannya, disampaikan rasa syukur atas perjalanan Paguyuban Mersudhi Budhoyo yang telah mampu bertahan dan terus berkesenian selama 27 tahun. Momen ulang tahun tersebut juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan antaranggota paguyuban serta masyarakat Padukuhan Girinyono.

Rangkaian tasyakuran kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan dan keberlangsungan Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo hingga memasuki usia ke-27 tahun. Prosesi tersebut berlangsung sederhana namun penuh makna, disaksikan oleh pengurus dan anggota paguyuban, tokoh masyarakat, serta warga yang hadir.

Pemotongan tumpeng menjadi simbol ungkapan syukur sekaligus harapan agar Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo senantiasa diberikan keberlangsungan, kekompakan, dan semangat untuk terus melestarikan seni karawitan serta kebudayaan Jawa.

Setelah prosesi tasyakuran dan pemotongan tumpeng, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon Lahiripun Abimanyu, yang dibawakan oleh dalang Ki Mujiyo. Pagelaran wayang kulit menjadi puncak acara tasyakuran dan peringatan HUT ke-27 Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo.

Pagelaran tersebut menjadi wujud rasa syukur atas perjalanan panjang paguyuban sekaligus momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan masyarakat. Kehadiran pagelaran wayang kulit juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni dan budaya tradisional di Padukuhan Girinyono.

Acara dihadiri oleh Carik Kalurahan Sendangsari, Dukuh Girinyono, tokoh masyarakat, serta warga Padukuhan Girinyono dan masyarakat dari wilayah sekitar. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya warga yang hadir dan mengikuti rangkaian acara hingga pagelaran wayang kulit berlangsung.

Lakon Lahiripun Abimanyu yang dipentaskan Ki Mujiyo membawa penonton menyelami kisah pewayangan sekaligus menikmati keindahan seni pedalangan dan karawitan. Alunan gamelan yang mengiringi jalannya pertunjukan berpadu dengan kepiawaian dalang dalam membawakan cerita, menciptakan suasana pagelaran yang tidak hanya menghibur tetapi juga sarat dengan nilai budaya.

Penampilan ibu-ibu anggota karawitan pada awal acara juga menunjukkan bahwa pelestarian seni budaya tidak mengenal batas usia. Keterlibatan kaum ibu dalam kegiatan karawitan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk terus berkesenian dan berkarya.

Bagi Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo, peringatan ulang tahun ke-27 bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengenang perjalanan paguyuban sekaligus memperkuat semangat para anggota dalam melestarikan seni karawitan dan budaya Jawa.

Kegiatan tersebut juga menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Padukuhan Girinyono dalam menjaga dan menghidupkan kesenian tradisional. Pagelaran wayang kulit menjadi ruang perjumpaan masyarakat lintas generasi, sekaligus memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal dan menikmati seni budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkungan mereka.

Antusiasme warga dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan menjadi gambaran bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat. Dukungan masyarakat terhadap kegiatan seni budaya diharapkan dapat terus tumbuh sehingga keberadaan kelompok-kelompok kesenian lokal tetap lestari dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui tasyakuran dan peringatan HUT ke-27 ini, Paguyuban Karawitan Mersudhi Budhoyo diharapkan semakin solid dan terus berkarya dalam melestarikan seni karawitan serta kebudayaan Jawa. Semangat kebersamaan yang telah terbangun selama 27 tahun menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi kesenian tradisional di Padukuhan Girinyono dan Kalurahan Sendangsari.(hrd)