Merti Padukuhan Kroco: Tradisi Guyub Rukun Jaga Warisan Leluhur

24 Februari 2025
Admin SID
Dibaca 70 Kali
Merti Padukuhan Kroco: Tradisi Guyub Rukun Jaga Warisan Leluhur

SENDANGSARI.ID – Warga Padukuhan Kroco, Kalurahan Sendangsari, kembali menggelar tradisi tahunan Merti Padukuhan sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya. Rangkaian acara berlangsung sejak 16 Februari hingga puncaknya pada 23 Februari 2025, dengan berbagai kegiatan yang mengandung nilai gotong royong, spiritualitas, dan kearifan lokal.

Kegiatan diawali dengan kerja bakti massal pada 16 Februari, dan dilanjutkan dengan Muqodaman pada 21 Februari, di mana masyarakat bersama-sama mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an sebagai doa keberkahan. Pada 22 Februari, warga melaksanakan ziarah makam para leluhur, khususnya kepada Dukuh pertama dan kedua Padukuhan Kroco, sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu mereka.

Puncak acara, yakni Minggu, 23 Februari diawali dengan Nawu Tuk di tujuh titik sumber air (Tirto Wening Tuk Pitu), yaitu Belik Sari, Gondangsari, Sumbermulyo, Besole, Pandan, Beji, dan Kroya. Prosesi ini dilanjutkan dengan kirab gunungan dan air dari ketujuh mata air tersebut, yang menjadi simbol kesejahteraan dan kesuburan.

Dalam acara ini hadir sebagai tamu undangan, yakni perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Kapanewon Pengasih yang diwakili oleh Hartono, SE (Kawat Kesra), Pamong beserta Staf Kalurahan Sendangsari, Bhabinkamtimbas, Ketua LP2AI dan Pendamping Budaya.

Arak-arakan kirab gunungan dan air dari ketujuh mata air disambut dan diterima oleh Dukuh Kroco dan diserahkan oleh ketua panitia. Antusias warga tidak berkurang meskipun cuaca kurang mendukung karena hujan rintik-rintik.

Momen kebersamaan masyarakat kembali terlihat dalam acara Kembul Donga dan Kembul Bujono. Acara juga semakin semarak dengan dihadirkannya pentas tari oleh Sanggar Komunitas Wolulas. Sebagai acara penutup, dilakukan Udi-Udi atau penyebaran uang receh oleh pejabat Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, serta Kundha Kabudayan Kabupaten Kulon Progo. Dari orang tua hingga anak-anak  berebut uang receh yang  dipercaya membawa keberkahan.

Pihak Panitia pun harus merelakan Gunungan Hasil Bumi direncak warga sebelum waktu yang ditentukan dikarenakan begitu besarnya antusias warga sehingga terburu-buru merayah gunungan tersebut sebelum diberikan diaba-aba.

Dukuh Kroco, Slamet Supriyono, S.Si menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya lokal dan penguatan rasa kebersamaan antarwarga. "Kami berharap tradisi ini terus lestari dan semakin mempererat persaudaraan warga Kroco. Semoga tahun depan pelaksanaan lebih meriah dan cuaca cerah," ujarnya.

Dengan semangat gotong royong dan nilai-nilai luhur yang diwariskan, Merti Padukuhan Kroco menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat. (Ipg)