Artikel
Sosialisasi Anti Kekerasan Anak: STOP Perundungan, Ciptakan Sekolah Nyaman, Aman, dan Tertib

Sosialisasi Anti Kekerasan Anak: STOP Perundungan, Ciptakan Sekolah Nyaman, Aman, dan Tertib

SLAMET SUPRIYONO.. S.SI SLAMET SUPRIYONO.. S.SI

Sendangsari, 12 Desember 2025-Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan kembali digaungkan oleh masyarakat Kalurahan Sendangsari melalui kegiatan Sosialisasi Anti Perundungan dan Kekerasan pada Anak, yang digelar pada Jumat (12/12/2025). Kegiatan bertema “STOP Perundungan: Ciptakan Sekolah yang Nyaman, Aman, dan Tertib” ini diselenggarakan oleh Kelompok Kerja (Pokja) 1 dan 2 PKK Kalurahan Sendangsari dan diikuti oleh 65 peserta yang terdiri dari anak-anak SD, orang tua, serta perwakilan guru SD se-Sendangsari.

Acara ini menghadirkan dua pemateri kompeten, yaitu Vivi Suryaningsih, S.Pd. dan Budi Santosa, S.Pd.I, yang telah lama berkecimpung dalam isu pendidikan anak dan perlindungan peserta didik. Melalui kegiatan ini, masyarakat luas diharapkan semakin memahami bahaya perundungan (bullying) serta pentingnya peran semua pihak guru, orang tua, dan lingkungan dalam menciptakan ruang belajar yang aman bagi anak.

Sambutan perwakilan Kelompok Kerja 1 dan 2 membuka acara yang menegaskan bahwa perundungan bukanlah isu sepele. Kasus perundungan, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun psikologis, kini kian sering terjadi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Karena itu, sosialisasi ini digelar untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada orang tua, guru, dan anak-anak tentang bagaimana mengenali bullying serta langkah tepat untuk mencegahnya.

Pihak panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Kalurahan Sendangsari terhadap tumbuh kembang anak. Anak bukan hanya membutuhkan pendidikan akademik, tetapi juga lingkungan yang mendukung kesehatan mental, rasa aman, dan kenyamanan dalam bersosialisasi.

Para pemateri membawakan materi dengan penyampaian yang menarik, interaktif, dan disesuaikan dengan dunia anak. Hal ini membuat peserta, khususnya anak-anak SD, dapat memahami isu perundungan dengan lebih mudah.

Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja, berulang-ulang, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Tindakan ini dapat terjadi di mana saja di sekolah, rumah, lingkungan bermain, maupun dunia digital (cyberbullying).

Banyak anak tidak menyadari bahwa tindakan mengejek, memberi julukan, atau mengolok-olok temannya termasuk dalam kategori perundungan. Sebagian menganggapnya “sekadar bercanda”, padahal dapat melukai perasaan dan memengaruhi kepercayaan diri korban.

Dalam pemaparan materi, dijelaskan empat bentuk utama perundungan : Bullying Fisik antara lain meliputi memukul, mendorong, menendang, mencubit, merusak barang milik teman, dan tindakan fisik lainnya yang menyakiti badan. Bullying Verbal berupa ejekan, memberi julukan buruk, menghina fisik, mengejek kekurangan, atau ucapan lain yang menyakiti perasaan. Bullying Sosial / Relasional tindakan mengucilkan, tidak mengajak bermain, menyebar gosip, atau membuat anak merasa tidak diterima di kelompok pertemanan. Cyberbullying perundungan melalui media sosial seperti komentar negatif, menyebar foto tanpa izin, atau pesan menyakitkan melalui aplikasi chat. Setiap bentuk bullying, sekecil apapun, berdampak besar bagi perkembangan mental anak. Korban dapat merasa takut ke sekolah, hilang percaya diri, mengalami stres, bahkan trauma berkepanjangan.

Suasana sosialisasi berlangsung menarik karena pemateri menggunakan metode diskusi interaktif, permainan edukatif, dan contoh-contoh situasi yang dekat dengan keseharian anak-anak. Anak-anak tampak antusias menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait apa yang mereka ketahui tentang bullying.

Beberapa anak mengaku sering menyaksikan teman mereka saling mengejek atau mengolok-olok fisik temannya. Melalui kegiatan ini, mereka menjadi lebih paham bahwa tindakan tersebut tidak boleh dilakukan, meski dianggap bercanda sekali pun.

Orang tua dan guru pun aktif berdiskusi tentang bagaimana menghadapi kasus perundungan yang mungkin terjadi di sekolah. Pemateri memberikan banyak contoh cara komunikasi efektif antara orang tua, guru, dan anak yang dapat mencegah terjadinya kekerasan maupun perundungan

Perlu diketahui bahwa dalam pencegahan bullying memerlukan peran dan kerja sama tiga pihak utama yaitu peran orang tua, guru, dan masyarakat.

Peran Orang Tua menjadi teladan dalam berperilaku baik, mengajarkan empati dan sopan santun kepada anak, mendengarkan keluhan anak tanpa menghakimi, dan mengawasi penggunaan gadget dan media sosial.

Peran Guru menciptakan suasana kelas yang inklusif dan saling menghargai, mengawasi interaksi siswa, terutama saat jam istirahat, menindaklanjuti laporan dari siswa maupun orang tua, menjadi mediator yang adil ketika terjadi konflik antar siswa.

Peran Lingkungan Sekolah dan Masyarakat membentuk budaya positif, mengadakan kegiatan pendukung karakter dan anti kekerasan, memberikan sanksi mendidik bagi siswa pelaku bullying.

Dengan kolaborasi ini, diharapkan sekolah di Kalurahan Sendangsari dapat menjadi ruang yang menyenangkan bagi semua anak.

Setelah kegiatan berlangsung, panitia mengumpulkan kesan dan pesan dari beberapa peserta. Tanggapan peserta menunjukkan bahwa sosialisasi ini memberikan dampak positif dan sangat dibutuhkan.

Guru-guru merasa senang karena materi disampaikan dengan bahasa yang ramah anak. Hal ini penting karena edukasi anti perundungan harus dimulai dari pemahaman yang mudah diterima oleh peserta didik. “Alhamdulillah menarik, pemateri menguasai dunia anak sehingga anak mudah menerima materi.” kata dari salah satu guru yang mengikuti sosialisasi.

Beberapa Wali Murid SD juga memberikan kesan positif adanya kegiatan ini :

  • ”Saya sangat setuju dengan adanya sosialisasi seperti tadi. Bisa menjadi pelajaran bagi orang tua dan anak-anak, baik di sekolah maupun di rumah. Semoga dengan acara ini ke depannya bisa lebih baik lagi dan tidak ada perundungan maupun kekerasan. Karena di sekolah sering terjadi bullying baik fisik maupun ucapan yang membuat anak minder sekolah.”
  • “Sangat bagus sosialisasi tentang pembulian yang mungkin belum semua anak tahu kalau mengolok-olok itu termasuk pembulian juga.”

Melalui tanggapan tersebut, tampak bahwa para orang tua sangat mendukung kegiatan semacam ini untuk terus dilaksanakan. Mereka berharap anak-anak dapat lebih memahami batasan perilaku dan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai sesama.

Panitia Kelompok Kerja 1 dan 2 PKK Kalurahan Sendangsari berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya pada sosialisasi. Mereka menegaskan bahwa diperlukan tindak lanjut nyata dari seluruh pihak.

Harapan panitia :

  • Tidak ada lagi perundungan, baik di sekolah maupun di rumah.
  • Anak-anak dapat saling menghormati, saling menjaga, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan temannya.
  • Orang tua lebih aktif memantau perilaku anak dan membimbing mereka dalam setiap aktivitas.
  • Sekolah semakin memperkuat program-program pembinaan karakter.
  • Sosialisasi serupa dapat lebih rutin dilakukan.

Menurut panitia, upaya menciptakan lingkungan yang aman bukan hanya tugas sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat.

Sosialisasi Anti Perundungan dan Kekerasan pada Anak ini menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen bersama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan tertib. Melalui pemahaman yang lebih baik tentang apa itu bullying, bagaimana bentuknya, dan bagaimana mencegahnya, diharapkan seluruh peserta baik anak, orang tua, maupun guru dapat berperan aktif dalam membangun budaya positif.

Kelompok Kerja 1 dan 2 Kalurahan Sendangsari berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda berkelanjutan agar edukasi mengenai anti kekerasan terus diberikan kepada masyarakat, khususnya kepada anak-anak usia sekolah dasar.

Dengan kolaborasi yang kuat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, Kalurahan Sendangsari optimistis dapat melahirkan generasi yang berkarakter, berempati, dan jauh dari perilaku perundungan. Anak-anak berhak tumbuh bahagia, dihargai, dan belajar dalam suasana yang aman.

image
Sendangsari